Media Sosial Tengah-tengah Masa Politik Pemilu

Dunia digital seakan menjadi kebutuhan di masyarakat yang susah dilepaskan. Memang sebagian besar dari aktivitas sehari-hari terpenuhi berkat adanya kemajuan teknologi, mulai dari memesan makanan, pesan ojek, membeli tiket transportasi, bahkan berkomunikasi jarak jauh. Salah satu bukti adanya kemajuan dunia digital adalah kemunculan sosial media.

Sosial media saat ini menjadi makanan sehari-hari di hampir semua kalangan di Indonesia, entah itu dari anak-anak muda sampai orang dewasanya. Bahkan tidak jarang kalau orang-orang pejabat pemerintah menggunakan sosmed untuk kebutuhan pribadinya mau pun untuk keperluan partai pemilu yang akan berlangsung.

Secara garis besar, media sosial di masa politik merupakan bentuk yang real atau nyata dari demokratisasi. Banyak perubahan-perubahan yang terjadi akibat pembentukan yang secara nyata tersebut, seperti penonton menjadi pengguna, dari pengantara menjadi isi, dari media yang tunggal menjadi multimedia, dan sebagainya.

Dari perubahan tersebut, sudah jelas kalau sosial media melahirkan sebuah revolusi yang baru, yakni revolusi digital sehingga aktivitas manusia banyak yang dipengaruhinya. Revolusi itulah yang pada akhirnya mengubah sisi kebiasaan manusia akan komunikasi satu sama lainnya dan mencairkan berita.

Dengan adanya sosmed dalam masa politik pemilu, informasi pun menjadi tidak lagi dikonsumsi personal melainkan secara publik. Dampaknya sudah jelas terlihat di depan mata kita dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah, kehadirannya sudah tidak lagi menjadi persoalan yang dipandang sebelah mata.

Tidak sedikit penggunanya menggunakan medsos dengan membuat sebuah grup untuk menyederhanakan komunikasi bersama teman-temannya yang mempunyai minat dan keinginan yang sama. Komunikasi semacam ini juga dilakukan di dalam kelompok pemerintah, sehingga mereka memiliki ruang sendiri untuk berkomunikasi. Pastinya mereka tidak jarang membicarakan politik pemilu yang ada di depan mata.

Meskipun media sosial memberikan dampak yang cukup kuat, tetapi hal-hal negatif pun terkadang tidak bisa kita hindari. Kata-kata yang muncul dalam postingan kadang memunculkan spekulasi yang pedas. Tapi tergantung dari tangan penggunanya. Seperti halnya pedang bermata dua, media sosial bisa menjadi ranah ide atau komentar yang positif mau pun negatif.

Sebagai contohnya, ketika sepasang kandidat terpilih menggunakan akun dunia mayanya untuk berkampanye, kolom komentarnya pasti akan dibanjiri oleh berbagai macam kalimat-kalimat yang mendukung. Tapi tidak hanya itu saja. Kalimat menjatuhkan pun tentu juga akan terlihat karena berasal dari kubu lawan yang ingin pihaknya menang untuk duduk di kursi pemerintahan.

Media sosial berperan aktif dalam pemilu

Di tangan yang salah itulah, medsos menjadi hal yang negatif dan tidak bisa kita hindari. Persebarannya yang terlalu cepat membuat penggunanya dengan gampang menilai dari sisi mana pun. Selain itu, tujuan yang ingin disampaikan oleh sepasang kandidat pun menjadi berantakan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Masa politik pemilu seperti sekarang-sekarang ini, medsos sudah memiliki peran yang penting, bahkan bisa dikatakan cukup strategis. Tahun politik seperti tahun 2018 sampai 2019 menjadi ajang beberapa pihak untuk mengkampanyekan visi dan misi mereka di ruang publik dunia maya.

Di musim pemilu, terlebih pemilihan capres dan cawapres yang lebih melingkup ke seluruh daerah di Indonesia, tentu mereka harus bisa menarik simpati rakyat agar bisa memenangi kursi pemerintahan. Pada awalnya mereka hanya memakai cara konvesional, yakni menggunakan baliho atau spanduk saja, kini media sosial juga sudah mereka pakai.

Medsos mereka pakai karena dianggap lebih efektif dalam menuturkan ide beserta visi dan misi mereka. Tapi karena terlalu banyaknya pengguna dunia maya di Indonesia, adu gagasan dan menjatuhkan lawan menjadi hal yang harus mereka persiapkan. Tidak heran karena kondisi yang semakin memanas, banyak orang yang mau ikut beradu argumen secara tidak sadarnya.

Semakin banyaknya informasi mengenai sepasang kandidat untuk pemilu nanti, maka akan semakin banyak pula informasi tersebut menjadi ajang untuk beradu gagasan satu sama lainnya. Tidak sedikit dari penggunanya yang menggunakan kata-kata kasar untuk menjatuhkan pihak lawan. Bahkan pihak lawan pun tidak tanggung-tanggung melawannya dengan kata-kata yang kasar juga.

Situasi itulah juga yang membuat media sosial sebagai bentuk kemajuan dunia digital yang negatif di tengah dunia pemilu tanah air. Tapi kondisi seperti itu tidak hanya di tanah air saja, melainkan di seluruh dunia. Sebagai contohnya seperti pemilihan presiden Amerika Serikat yang lalu.

Mereka memakai media sosial sebagai jalur kampanye mereka karena informasinya gampang tersebar ke seluruh negara, bahkan dengan sangat cepat. Terlebih lagi mereka yang mempunyai pengikut akun media sosial yang banyak, akan dengan cepat mereka bisa mengsharenya ke orang lain.

Dengan begitu, kandidat yang mereka pilih pun akan semakin banyak pendukungnya. Banyaknya pendukung tentu akan memudahkan mereka untuk menang. Tidak heran kalau banyak pengguna media sosial yang berusaha untuk menambahkan pertemanan agar gampang menyebarkan informasi kandidat pilihannya.

Kamu pun juga bisa menambahkan pengikut dengan cara yang gampang, yaitu menggunakan jasa belifollowers.com. Pilih akun medsos yang mau kamu tambahkan, seperti Facebook, Twitter, atau Instagram. Semakin banyak followers, kandidat pilihan kamu akan semakin banyak yang mendukung untuk pemilu nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Chat di WhatsApp
Indra
Jumlah pesanan 95000.00 IDR
3 minggu yang lalu
 
Indra
Jumlah pesanan 95000.00 IDR
3 minggu yang lalu
 
Verdi
Jumlah pesanan 95000.00 IDR
3 minggu yang lalu
 
Indra
Jumlah pesanan 95000.00 IDR
4 minggu yang lalu
 
Agus
Jumlah pesanan 95000.00 IDR
4 minggu yang lalu