Marak Hoax di Sosial Media Menjelang Pemilu Presiden 2019

Dunia teknologi hingga saat ini tidak pernah bosan-bosannya mengalami kemajuan. Hampir sepanjang tahun berbagai macam teknologi selalu saja ada yang baru, entah itu bidang kedokteran, kebutuhan rumah tangga, sampai komunikasi. Salah satu kemajuan di bidang komunikasi adalah sosial media.

Sosial media memang sudah ada dari awal tahun 2000-an, tapi semakin populer beberapa tahun kemudian. Kalau dulu penggunanya hanya bisa membuka akun sosmednya melalui situsnya saja, sekarang mereka sudah bisa mengaksesnya dengan menggunakan perangkat atau gadget lainnya, seperti smartphone atau tablet.

Kamu tidak hanya menggunakannya untuk berkomunikasi dengan teman atau keluarga yang jaraknya jauh saja, tapi juga bisa mencari teman baru, bahkan menyebarluaskan kegiatan kamu pada hari itu. Dengan mempostingnya, teman-teman kamu bisa mengetahui kegiatan yang sedang kamu lakukan.

Meski ada dampak positif yang didapat buat penggunanya, tentu ada dampak negatif yang pasti tidak bisa kita hindarkan. Pengguna media sosial tidak hanya dipakai oleh kalangan tertentu saja, karena semua kalangan, entah itu dari anak-anak, remaja, sampai orang dewasa pun bisa memakainya. Dari rakyat biasa hingga pejabat pemerintah juga menggunakannya.

Semakin banyaknya pengguna yang aktif, tentu bisa mengundang hal-hal yang negatif ke dalamnya, seperti hoax atau fitnah. Kasus hoax bukanlah masalah yang jarang kita hadapi di zaman teknologi yang maju ini. Sudah terlalu sering kita menemukannya, bahkan menjelang pemilu presiden 2019 pun masih saja ada hoax.

Hoax memang menjadi ancaman bagi semua orang, bahkan kalau menyangkutpautkan masalah tersebut dengan pemilu, tentu akan menjadi tantangan dan masalah yang tak terhindarkan dalam memecah belah kesatuan bangsa. Beberapa tahun ini, fitnah, ujaran kebencian, atau fitnah kerap sekali muncul di polemik masyarakat, pemerintahan, bahkan pemilu.

Semakin maraknya hoaks di tengah-tengah masyarakat, tentu akan membahayakan kehidupan bernegara kita yang harusnya bisa rukun dan terjaga kesatuannya. Terasa sangat miris sekali kalau ada pengguna sosial media yang memposting konten-konten negatif mengenai kabar yang tidak benar, bahkan yang berisi fitnah-fitnah.

Bahkan calon presiden dan calon wakil presiden saja sempat diberitakan fitnah atau dituduh mengujar kebencian ke pasangan lawannya. Tentu isi-isi yang negatif itu membawa dampak yang begitu negatif, terutama menjelang pemilu presiden 2019 yang sedang panas-panasnya ini.

Seharusnya pengguna sosial media memberitakan visi misi kedua pasangan capres dan cawapres agar minat masyarakat untuk mengikuti pemilu semakin tinggi, bahkan saling mendukung satu sama lainnya. Rekam jejak kedua pasangan pun bisa juga disebar agar rakyat tahu bagaimana perjuangan kedua pasangan tersebut bisa maju ke kursi pemimpin pemerintahan.

Tapi sayangnya, konten-konten yang positif seperti itu malah dipakai untuk menyebarkan ujaran kebencian, fitnah, dan hoax oleh pengguna-pengguna akun sosmed yang tidak bertanggung jawab. Konten negatif itu tentu membawa pemilu presiden 2019 semakin panas dan kubu-kubu tertentu akan saling menyerang demi mempertahankan pasangan kandidatnya.

Salah satu kasus haox yang pernah terjadi beberapa bulan lalu adalah kasus Meiliana yang tinggal di Tanjung Balai. Pada mulanya, tidak ada sama sekali terjadi kerusuhan hanya karena kritikannya saja. Tapi, masalah besar baru benar-benar terjadi ketika ada pengguna media sosial yang memanaskan suasana.

Alhasil, masyarakat setempat membakar rumah ibadat dan pengguna sosial media tersebut pun kabur begitu saja. Yang mengejutkannya lagi adalah ketika polisi menyelidikinya, ternyata pengguna akun tersebut bukan berasal dari daerah setempat melainkan dari luar kota. Intinya, dari luar kota Tanjung Balai saja bisa menyebarkan berita yang tidak benar dan mengundang kerusuhan yang seharusnya tidak terjadi.

Ujaran kebencian, hoaks, serta fitnah memang harus kita miminimalisir sebagai pengguna sosial media yang beretika dan bertanggung jawab. Jika tidak kita lakukan, tentu demokrasi di tanah air akan semakin rusak, bahkan masa depan untuk anak cucu tidak lagi cemerlang karena sudah dihancurkan oleh generasi sekarang yang tidak bertanggung jawab.
berhati-hati dalam menerima berita
Tidak hanya itu saja. Masyarakat bukan lagi membahas bagaimana visi misi dan rekam jejak pasangan kandidat presiden di pemilu presiden 2019 nanti, melainkan hanya menyebarkan konten negatif atau hoaks. Sebagai perusak demokrasi kehidupan berbangsa kita, tentu harus kita waspadai dengan seksama segala berita yang muncul tanpa adanya kebenaran.

Kita harus pintar-pintar memilih berita yang kita terima. Jangan asal menerimanya saja dan kita menjadi ikut-ikut menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya itu. Tahun politik seperti sekarang ini memang sedang rawan-rawannya isu hoax dan ujaran kebencian di sosial media. Karena itu, kita harus memikirkan matang-matang bagaimana isi berita yang tersebar di sosmed.

Memang tidak gampang untuk menentukan berita itu benar atau tidak. Hanya saja, kalau belum tentu benar, setidaknya kita jangan ikut memanas-manasi keadaan, karena akan berdampak yang lebih buruk lagi nanti. Daripada begitu, kamu berikan saja konten positif pada pengguna sosmed lainnya dengan menyebarkan visi misi dan rekam jejak pasangan kandidat.

Sebelum itu, kamu tambahkan dulu pertemanan kamu dengan memakai belifollowers.com. Pilih saja akun mana yang mau ditambahkan followersnya, nanti sudah bertambah secara cepat. Semakin banyak followers kamu, maka akan semakin banyak pula yang mengetahui konten positif kamu mengenai pasangan kandidat menjelang pemilu presiden 2019 nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Chat di WhatsApp
Clementine Isti
Jumlah pesanan 125000.00 IDR
5 hari yang lalu
 
Evelyn
Jumlah pesanan 245000.00 IDR
5 hari yang lalu
 
Bina
Jumlah pesanan 125000.00 IDR
6 hari yang lalu
 
Jejen
Jumlah pesanan 95000.00 IDR
7 hari yang lalu
 
Romeo
Jumlah pesanan 125000.00 IDR
1 minggu yang lalu